adailmu adainfo 0 Comments , , , , , , ,

Sebenarnya sarjana komputer itu apakah harus bisa ngoding ? bag.2

mungkin dari teman-teman bagaimana sih cara ngajar … mata kuliah algoritma dan pemrograman di kampus luar negeri? Well, saya mungkin sedikit bisa cerita pengalaman di kampus saya. Yang jelas sebelum masuk ke mata kuliah programming, mereka sudah mengambil mata kuliah Algorithmic problem solving terlebih dahulu seperti cerita saya di atas. Lalu bagiaman kuliah algoritma pemrograman nya?

Kebetulan setiap semester musim gugur, saya diminta jadi asisten dosen ndoro dosen pembimbing S3 saya pada mata kuliah Algoritma dan Struktur Data. Lebih tepatnya dipaksa, lahwong saya ini background nya sistem informasi bukan ilmu komputer, yang tentu saja ndak sedalam di jurusan ilmu komputer/teknik informatika belajar algoritmanya. Sehingga, saya sempat menolak tawaran itu. But, the show must go on.

Untuk mata kuliah angker ini, ada tiga jenis tatap muka dalam seminggu. Pertama, dua kali  pertemuan kuliah masing-masing 50 menit (di kampus ini hampir semua kuliah maksimal 50 menit, biar mahasiswa nya ndak teler). Kedua, tutorial selama 50 menit, untuk materi tambahan di kelas. Ketiga, lab. session, juga selama 50 menit. FYI, ketiga jenis tatap muka ini, semuanya tidak wajib hadir, karena disini tidak ada yang namanya absensi kuliah.

Sistem penilainya, 20% dari coursework dan 80% dari ujian tulis final examination. Coursework itu semacam tugas gitu kali ya kalau di Indonesia. Ada 3 coursework untuk mata kuliah ini. Setiap coursework, berisi problem set dan open question yang harus diselesaikan dengan coding dan dijelaskan dalam sebuah report yang harus disubmit pada saat deadline bersama dengan code program nya. Nah, pada waktu lab. session itulah, mahasiswa mengerjakan coursework. Di lab. ndoro dosen, saya, dan beberapa teman asisten dosen lainya stand by di lab. Kita sama sekali tidak guide mereka di lab, kita juga sama sekali tidak boleh ngasih clue dari problem yang harus mereka selesaikan. Mereka benar-benar diumbar begitu saja, kecuali jika mereka ada hal yang ingin ditanyakan atau didiskusikan, mereka cukup melambaikan tangan, dan kita para asisten dosen akan datang. Layaknya, memanggil pelayan di sebuah restoran.

Di akhir deadline, mereka harus submit report, yang berisi penjelasan solusi dari problem set, penjelasan dan analisa code program yang sudah mereka buat. Analisa code ini harus mereka jelaskan secara matematik, maupun secara experiment. Tugas saya sebagai asisten dosen adalah menilai report tadi, dan memberi feedback. Nilai dari coursework, 80% dari report, dan 20% dari feedback session (something like interview).

Saat menilai report dan memeriksa code inilah, saya benar-benar terkagum. Mahasiswa disini, benar-benar genuine, ndak ada yang namanya nyontek code orang lain dengan mengganti nama variabel nya doang. Saya bisa melihat mana yang genuine, dan mana yang nyontek logika orang lain. Dan saya menemukan disini, 99.9% genuine. Aplagi, pertanyaanya open. Dimana jawaban yang benar tidak pasti A, tetapi bisa B, C, D sesuai dengan analisa dan interprestasi mahasiswa. Sementara, di sesi feedback. Saya menginterview, masing-masing mahasiswa satu persatu, memastikan mereka paham dengan problem set di coursework, dan menjelaskan kepada mereka jika mereka kurang paham.

 

 

source : cakshon.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *